Rohis SMUNSA

bersatu berpadu menjalin ukhuwah

Kok Nggak Boleh Pacaran sih?!

with 4 comments

Jangan benci dan jangan su’uzon ketika Islam melarang pacaran. Bukan ustad, kyai atau para dai yang melarangnya, tetapi Allah SWT, sebagai Dzat yang Menciptakan dan Maha Mengetahui akan ciptaan-Nya. Firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al Isra’17:32)
Mungkin ada yang berpendapat “kita kan masih muda, masih ingin menikmati kesenangan dunia”. Kita harus ingat bahwa kematian bisa datang kapan saja, tidak melihat umur masih muda atau sudah tua. Bahkan anak 5 tahun pun ada yang meninggal kerena kecelakaan. Justru karena kita masih muda, gunakan otak untuk berpikir secara jernih dan mendalam tentang Islam. Manfaatkan potensi yang sudah Allah SWT berikan untuk kemajuan Islam.
Kesenangan dunia hanya kesenangan sementara dan menipu. Firman Allah SWT: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati……. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Q.S. Al Imran:3:185)
Bukan berarti bahwa kita tidak boleh mencari kesenangan di dunia. Islam akan memberikan kesenangan yang kekal kepada hambanya yang taat pada syariat-Nya. Kita harus ingat, sesenang apapun kita di dunia, ujungnya juga kita akan meninggalkan dunia menuju kehidupan akhirat yang kekal. Dunia merupakan tempat tempaan akhirat. Dimana kah kita akan berakhir, di surga ataukah neraka? Dunialah tempat menentukannya.
Allah telah memberikan solusi bagi permasalah naluri nau’ yang satu ini, yaitu melalui menikah. Menikah merupakan gerbang barokah bagi seorang laki-laki dan perempuan untuk membentuk cinta sempurna dalam biduk rumah tangga. Barokah akan mengalir kepada pasangan insan yang menikah dengan niat ibadah. Berbeda dengan aktivitas pacaran, bukan pahala yan di dapat tetapi dosa, dosa dan dosa. Seorang muslim yang cerdas tentu tidak akan salah memilihnya. Wallahu’alam.

Written by margi

May 29th, 2009 at 2:51 am

Posted in Uncategorized

Hadapi Cengkraman Barat

without comments

Seberapa kuatkah cengkraman Barat di Indonesia, terutama yang mencengkream generasi muda? Mari kita lihat nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada generasi muda dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan unsur-unsur fisik. Bagaimana seorang wanita dikatakan cantik dengan kulitnya yang putih dan halus, rambutnya yang berkilau, dan tubuhnya yang seksi. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih dihargai karena unsur-unsur fisiknya. Kontes menyanyi dan lomba kecantikan menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tanpa peduli urusan moral.
Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur, ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka, semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya dengan pornografi, tetapi ekspresi seni. Na’udzubillah.
Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah liberalisasi di berbagai bidang termasuk liberalisasi dalam kontes-kontes kecantikan yang mengeksploitasi wanita. Sudah beberapa kali, Putri Indonesia senantisa tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara vulgar dalam pakaian bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mendapatkan penghargaan sebagai “Ratu Kecantikan”.
Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain. Lalu untuk apa? Katanya, untuk pariwisata, agar turis mau datang, agar diakui, bahwa negara Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?
Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. Barangkali takut dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan.
Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetapi, protes itu pun dianggap angin lalu. Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung, yang penting uang mengalir. Yang penting acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral atau tidak, tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak.
Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah remeh. Meskipun sudah berulangkali dipaparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu. Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Meskipun sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai “wacana”.
Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya, apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau ulama?

Written by margi

May 29th, 2009 at 2:47 am

Posted in Uncategorized

Bangga Menyambut Kedatangan Menlu AS??

with 4 comments

Mengapa pejabat di negeri ini begitu suka cita menyambut kedatangan Hillary Clinton, Menlu AS yang baru, yang datang ke Indonesia tanggal 18-19 Pebruari 2009? Bukankah kita tahu, bahwa AS adalah negara penjajah, dengan semua definisi dan maknanya? AS bukan saja telah menjajah Afghanistan dan Irak yang telah menewaskan ratusan ribu, bahkan jutaan manusia, tetapi juga telah menjajah negeri kita. Bahkan, sudah banyak pakar dan intelektual di negeri ini yang mengatakan, bahwa negeri ini masih terjajah, dan penjajahnya tak lain adalah Kapitalisme Global yang dipimpin oleh AS. Lalu, mengapa para pejabat di negeri ini masih saja menyambut Menlu dari negara penjajah itu dengan suka cita, bahkan dengan penuh bangga? Apakah mereka tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa AS adalah negara penjajah dengan semua definisi dan maknanya?

Pertanyaannya, jika demikian apa yang akan didapat oleh negeri Muslim terbesar ini? Lanjutkan membaca!

Written by margi

February 28th, 2009 at 3:07 am

Posted in Uncategorized