“Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung Maha Tinggi, tempat kita menujukan segala puji dan syukur kepada-Nya, yang telah melimpahkan bimbingan dan ketenangan hati serta meredakan segala apa yang telah menganiaya dan menghancurkan jiwa dan raga hamba-Nya. Dimana saat ini kehormatan kita sebagai Ummat Islam? Dimana letak kebanggaan kita sebagai Ummat Muslim? Dimana gelora semangat kita sebagai orang-orang yang beriman?
Archive for the ‘ artikel ’ Category
Manusia itu bermacam-macam. Ada yang sempurna. Ada yang kurang sempurna. Ada yang berkulit hitam. Ada yang kulitnya putih. Ada yang cantik. Ada yang tampan. Ada juga yang kurang cantik atau kurang tampan.. dan jumlah mereka berjuta-juta bahkan lebih.
Namun, secara keseluruhan dari manusia yang buanyak itu hanya dibagi menjadi 3 golongan saja berdasarkan kecintaan dan kebencian (maksudnya cinta dan bencinya krn Allah lho..), yaitu:
1. Manusia yang dia dicintai dengan cinta yang murni tidak ada permusuhan sama sekali dalam kecintaannya. Siapakah mereka?
Mereka adalah kaum mukminin yang bersih seperti para nabi, shahabat, shiddiqin, syuhada’, dan para shalihin… Kita tidak boleh sama sekali membenci mereka. Jika kita benci mereka, maka kita yang akan “dipertanyakan”.
2. Manusia yang dicintai dalam satu sisi dan dibenci pada sisi yang lain.
Mereka adalah orang-orang muslim yang kadang berbuat kebaikan dan kadang berbuat maksiat.
Nah, ketika dia mengerjakan ketaatan,maka harus dicintai. Tetapi, jika dia suka bermaksiat maka seharusnya kita benci karena perbuatan kemaksiatannya itu. Namun, kita juga punya PR untuk menasehatinya. (ingat QS. al-’Ashr:3)
3. Manusia yang dicintai dan dibenci dengan permusuhan abadi; tidak ada kecintaan dan kesetiaan sama sekali terhadap mereka!!!
Mereka adalah orang musyrik, kafir, munafik, dan murtad. Kita harus bener-bener benci sama mereka, tidak boleh saling berkasih sayang.
Mari berlomba-lomba untuk menjadi orang yang dicintai Allah dengan kecintaan yang murni…
So, kita termasuk golongan manusia yang mana…?!?
Semoga bukan golongan yang ketiga… na’udzu billaahi min dzaalik…
Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad nya, I/310, dari Ibnu ‘Abbâs, ia mengatakan: Rasulullah Shallâllâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
Pada malam dimana aku di-isra’-kan, aku mencium sebuah bau yang wangi, maka aku bertanya, “Wahai Jibril, bau wangi apa ini?” Maka Jibril menjawab, “Ini adalah Masyithah (tukang sisir perempuan) bagi anak perempuan Fir’aun dan anak-anaknya.” Rasulullah bersabda, “Aku bertanya: Apa yang terjadi dengannya?” Jibril menjawab, “Pada suatu hari, tatkala menyisir anak perempuan Fir’aun, sisirnya jatuh dari tangannya, maka ia mengatakan: Bismillâh (Atas nama Allah aku mengambil sisir ini). Maka anak perempuan Fir’aun tersebutpun bertanya: (Apakah yang kamu maksud adalah) bapakku? Ia menjawab: Bukan, tapi Ia adalah Rabb-ku dan Rabb bapakmu, yaitu Allah. Anak perempuan itu berkata: Bolehkan aku beritahukan hal itu kepada bapakku? Ia menjawab: Ya. Maka anak perempuan Fir’aun itupun memberitahukan hal tersebut kepada Fir’aun. Maka Fir’aunpun memanggilnya, lalu ia berkata: Wahai Fulanah, apakah engkau mempunyai Rabb selain aku? Ia menjawab: Ya, Rabb-ku dan Rabb-mu, yaitu Allah. Maka Fir’aunpun memerintahkan untuk memanaskan sebuah periuk dari tembaga yang besar, kemudian ia memerintahkan untuk melemparkan tukang sisir tersebut dengan anak-anaknya ke dalam periuk tersebut. Perempuan tukang sisir itupun mengatakan: Sesungguhnya aku mempunyai permintaan kepadamu? Ia mengatakan: Apa permintaanmu? Ia menjawab: Aku menginginkan agar engkau mengumpulkan tulang belulangku dengan tulang belulang anakku dalam sebuah kain lalu engkau kuburkan kami. Fir’aun mengatakan: Itu adalah permintaanmu yang pasti kami laksanakan.” Jibril berkata, “Lalu Fir’aun memerintahkan untuk melemparkan anak-anaknya satu persatu di hadapannya sampai yang terakhir adalah bayi yang masih ia susui, dan seolah-olah ia ragu-ragu pada anak tersebut. Anak itu mengatakan: Wahai ibu, masuklah, karena sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan dari pada siksa akhirat, maka iapun masuk.”
Hadits ini rijalnya tsiqat kecuali Abu ‘Umar. Adz-Dzahabi dan Abu Hatim mengatakan tentang dirinya: Dia adalah Shadûq. Namun Ibnu Hibbaan menyatakan bahwa dia adalah tsiqqah.