Kisah Masyithah

Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad nya, I/310, dari Ibnu ‘Abbâs, ia mengatakan: Rasulullah Shallâllâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

Pada malam dimana aku di-isra’-kan, aku mencium sebuah bau yang wangi, maka aku bertanya, “Wahai Jibril, bau wangi apa ini?” Maka Jibril menjawab, “Ini adalah Masyithah (tukang sisir perempuan) bagi anak perempuan Fir’aun dan anak-anaknya.” Rasulullah bersabda, “Aku bertanya: Apa yang terjadi dengannya?” Jibril menjawab, “Pada suatu hari, tatkala menyisir anak perempuan Fir’aun, sisirnya jatuh dari tangannya, maka ia mengatakan: Bismillâh (Atas nama Allah aku mengambil sisir ini). Maka anak perempuan Fir’aun tersebutpun bertanya: (Apakah yang kamu maksud adalah) bapakku? Ia menjawab: Bukan, tapi Ia adalah Rabb-ku dan Rabb bapakmu, yaitu Allah. Anak perempuan itu berkata: Bolehkan aku beritahukan hal itu kepada bapakku? Ia menjawab: Ya. Maka anak perempuan Fir’aun itupun memberitahukan hal tersebut kepada Fir’aun. Maka Fir’aunpun memanggilnya, lalu ia berkata: Wahai Fulanah, apakah engkau mempunyai Rabb selain aku? Ia menjawab: Ya, Rabb-ku dan Rabb-mu, yaitu Allah. Maka Fir’aunpun memerintahkan untuk memanaskan sebuah periuk dari tembaga yang besar, kemudian ia memerintahkan untuk melemparkan tukang sisir tersebut dengan anak-anaknya ke dalam periuk tersebut. Perempuan tukang sisir itupun mengatakan: Sesungguhnya aku mempunyai permintaan kepadamu? Ia mengatakan: Apa permintaanmu? Ia menjawab: Aku menginginkan agar engkau mengumpulkan tulang belulangku dengan tulang belulang anakku dalam sebuah kain lalu engkau kuburkan kami. Fir’aun mengatakan: Itu adalah permintaanmu yang pasti kami laksanakan.” Jibril berkata, “Lalu Fir’aun memerintahkan untuk melemparkan anak-anaknya satu persatu di hadapannya sampai yang terakhir adalah bayi yang masih ia susui, dan seolah-olah ia ragu-ragu pada anak tersebut. Anak itu mengatakan: Wahai ibu, masuklah, karena sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan dari pada siksa akhirat, maka iapun masuk.”

Hadits ini rijalnya tsiqat kecuali Abu ‘Umar. Adz-Dzahabi dan Abu Hatim mengatakan tentang dirinya: Dia adalah Shadûq. Namun Ibnu Hibbaan menyatakan bahwa dia adalah tsiqqah.

One Response to “Kisah Masyithah”

  1. Rohis SMUNSA » Blog Archive » Kepada Ukhti Muslimah Says:

    [...] SMUNSA bersatu berpadu menjalin ukhuwah « Baarakallaah lak, Dona! Kisah Masyithah [...]

Leave a Reply